Bagi Yang Punya Anak ! Nilai Jeblok Jangan Dicap “Bodoh”, Bisa Jadi Ini Sebabnya

Gangguan kesulitan belajar adalah suatu gangguan yang mempengaruhi kemampuan otak untuk menerima, memproses, menganalisa atau menyimpan suatu informasi. Adanya masalah-masalah tersebut dapat menyebabkan seorang anak menjadi kesulitan untuk menyerap pelajaran secepat teman-temannya yang lain. Gangguan kesulitan belajar banyak jenisnya, ada yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi atau fokus pada sesuatu, atau ada juga jenis gangguan kesulitan belajar yang menyebabkan seseorang mengalami kesulitan untuk membaca, menulis, mengeja atau mengerjakan soal matematika.

http://www.suaramedia.com/images/stories/2011/2Berita/4_kesehatan/anak-kesulitan-belajar.jpg

Ketika seorang anak didiagnosa mengalami gangguan kesulitan belajar, bukan berarti ia adalah anak yang bodoh. Karena gangguan kesulitan belajar tidak berhubungan dengan intelegensia seseorang, dan lagi banyak orang-orang sukses yang juga dikenal memiliki gangguan kesulitan belajar seperti : Walt Disney, Alexander Graham Bell dan Winston Churchill.
Anak-anak yang mengalami kesulitan belajar seringkali membuat orangtua stres dan mendapat cap buruk di sekolah. Tapi orangtua perlu menyadari bahwa anak yang sulit belajar bukanlah suatu penyakit dan hal ini bisa ditangani.
“Kesulitan belajar bukanlah suatu penyakit, melainkan tanda dari perkembangan otak yang masih kurang optimal,” ujar Ike R Sugianto, Psi, seorang psikolog anak dalam rilis seminar Identifikasi Gangguan Perkembangan, Jumat (1/4/2011).
Ike menuturkan ada beberapa ciri yang menunjukkan anak mengalami kesulitan belajar yaitu:
  1. Nilai pelajaran yang naik turun
  2. Sulit mengatur kegiatan atau barang
  3. Mudah lupa
  4. Sering kehilangan barang-barang
  5. Sering melamun
  6. Ceroboh dan tidak teliti
  7. Tidak termotivasi untuk belajar
  8. Mudah menyerah
  9. Sulit duduk tenang untuk jangka waktu yang lama
  10. Banyak berbicara
  11. Sulit menunggu giliran
  12. Suka jail, iseng dan impulsif
Meski begitu ada hal-hal yang harus dihindari karena tidak akan membantu anak mengatasi kesulitan belajarnya seperti:
  1. Memarahi, menghukum atau mempermalukannya
  2. Memberi cap atau sebutan negatif
  3. Memperbanyak latihan dan les
  4. Mengiming-imingi hadiah
“Tapi orangtua tidak perlu khawatir karena kesulitan belajar bisa ditangani,” ujar Ike yang telah mendapatkan International Licensed Brain Gym International dan telah menjadi International RMT Consultant.
Apa yang orangtua bisa lakukan?
  1. Menerima keadaan yang ada, dalam hal ini bukan berdiam diri, bukang menyangkali, berhenti menyalahkan diri sendiri, orang lain atau Tuhan serta berhenti menangisi diri sendiri
  2. Melakukan pemeriksaan baik secara psikologis, motorik, neurologis, mata, THT dan alergi
  3. Berkomitmen 100 persen untuk menjalani program terapi serta mengubah pola pikir dan pola asuh
  4. Menyeimbangkan antara kasih sayang dan disiplin
  5. Memberikan pujian
  6. Menghindari label negatif
Sementara itu guru juga bisa berperan dengan memberikan suasana belajar yang menyenangkan seperti menggunakan visual, auditori atau praktek, menggunakan minat anak dalam memberikan contoh, memberikan target yang jelas, memberikan pernyataan positif serta menjadi inspirasi.
Jenis Gangguan Kesulitan Belajar
Kebanyakan gangguan kesulitan belajar dibagi menjadi 2 yaitu verbal & non-verbal. Berikut penjelasan yang medicastore ambil dari kidshealth.org:
  • Gangguan secara verbal
    Orang yang mengalami gangguan kesulitan belajar jenis verbal akan mengalami kesulitan dengan kata-kata, baik secara lisan ataupun tulisan. Salah satu gangguan kesulitan belajar yang paling dikenal adalah dyslexia. Pada orang yang mengalami dyslexia, maka ia akan mengalami kesulitan untuk mengenal suatu kata atau memproses huruf dan bunyi yang berhubungan dengan kata tersebut.
  • Gangguan non-verbal
    Orang yang mengalami gangguan kesulitan belajar non-verbal akan mengalami kesulitan untuk memproses sesuatu yang mereka lihat, misalnya angka, tanda +, – , x atau : pada soal matematika.
Dyslexia
Kali ini medicastore mencoba membahas mengenai salah satu gangguan kesulitan belajar yaitu dyslexia. Menurut U.S. National Institutes of Health, dyslexia adalah ketidakmampuan belajar yang dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, mengeja suatu kata bahkan berbicara. Tingkat dyslexia yang bisa dialami seseorang dapat bervariasi, mulai dari yang ringan sampai berat. Akan tetapi semakin cepat dyslexia dapat terdiagnosa & diatasi, hasil yang diharapkan juga akan semakin terlihat. Dyslexia sendiri tidak disebabkan karena adanya gangguan pada telinga atau penglihatan, tetapi disebabkan karena otak mengalami gangguan untuk mengartikan gambar/image yang diterima oleh mata & telinga menjadi bahasa yang dimengerti.
Pada orang yang mengalami dyslexia, maka kata-kata yang sederhana pun akan menjadi susah untuk dibaca, bahkan bila dilihat beberapa kali. Kata-kata yang terlihat juga dapat bercampur dengan kata-kata lain atau menjadi keliru dibaca, misalnya saja kata “nakal” menjadi “kanal” atau “dia” menjadi “adi”, dan huruf-huruf menjadi satu seperti tidak ada spasi. Berikut contoh kalimat yang mungkin dilihat oleh penderita dyslexia :
Bagi yang mengalami dyslexia, kadang susah untuk mengingat sesuatu yang mereka baca, kadang akan menjadi lebih mudah bagi mereka untuk mengingat apabila informasi tersebut dibacakan & didengar oleh mereka.
Penyebab Dyslexia
Ada beberapa tipe dyslexia yang dapat mempengaruhi kemampuan mengeja & membaca beserta penyebabnya, seperti berikut ini yang medicastore ambil dari medicinenet.com .
  • Trauma dyslexia
    Biasanya terjadi akibat adanya trauma atau luka pada bagian otak yang mengontrol cara untuk membaca & menulis.
  • Dyslexia primer
    Dyslexia ini disebabkan karena tidak berfungsinya bagian otak kiri (cerebral cortex) & tidak berubah karena usia. Orang yang mengalami jenis dyslexia ini sangat jarang bisa membaca dengan lancar, bahkan hingga dewasa. Dyslexia primer ini dapat diturunkan secara genetik & biasanya lebih banyak dialami oleh pria daripada wanita.
  • Dyslexia sekunder
    Dyslexia jenis ini disebabkan oleh pembentukan hormon yang kurang sempurna pada saat perkembangan awal janin. Dyslexia sekunder ini akan menghilang seiring bertambahnya usia anak, serta lebih sering terjadi juga pada anak laki-laki.
Diagnosis Dyslexia
Orangtua atau guru dapat menduga seorang anak mengalami dyslexia, jika ia mengalami hal-hal berikut ini yang medicastore ambil dari kidshealth.org :
  • Kemampuan membaca yang buruk, meskipun memiliki kepintaran yang normal.
  • Kemampuan mengeja & menulis yang buruk.
  • Mengalami kesulitan untuk menyelesakan tugas atau tes sesuai batas waktunya.
  • Mengalami kesulitan untuk mengingat nama suatu benda.
  • Mengalami kesulitan untuk mengingat daftar tulisan atau nomor telepon.
  • Mengalami kesulitan dalam menentukan arah atau membaca peta.
Jika ada seseorang yang mengalami masalah-masalah tersebut di atas, bukan berarti ia menderita dyslexia. Tetapi sebaiknya dilakukan tes untuk mengetahui kondisinya. Suatu pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya masalah medis, termasuk tes pendengaran & penglihatan. Kemudian psikolog sekolah atau orang yang ahli mengenai pembelajaran dapat memberikan tes terstandar untuk mengukur kemampuan berbicara, membaca, mengeja & menulis.
Penanganan Dyslexia
Jika anak terdiagnosa mengalami dyslexia atau gangguan kesulitan belajar lainnya, maka berikut beberapa tips untuk orang tua, yang medicastore ambil dari mayoclinic.com :
  • Selalu berikan dukungan pada anak. Memiliki dyslexia atau gangguan kesulitan belajar lainnya dapat membuat anak menjadi rendah diri. Berikan selalu dukungan & cinta untuk mendukung setiap kemampuannya.
  • Bicarakan dengan anak. Beritahukan kepada anak apa yang dimaksud dengan dyslexia, bahwa hal tersebut bukanlah suatu kesalahannya. Dengan membantu anak memahami hal tersebut, maka ia akan menjadi lebih mudah untuk mengatasi hal tersebut.
  • Buatlah keadaan rumah menjadi tempat belajar yang mudah untuk anak. Sediakan ruangan yang sepi & terorganisasi sebagai tempat belajar anak. Atur jadwal belajar yang nyaman & berikan dukungan dari seluruh anggota keluarga untuk membantu proses belajar anak.
  • Kerjasama dengan sekolah tempat anak belajar. Sering berkomunikasi dengan guru di sekolahnya untuk memastikan anak tidak tertinggal pelajarnya, bila memungkinkan minta rekaman/salinan bahan pelajaran hari itu untuk dipelajari nanti sepulang sekolah atau les khusus untuk membantunya belajar. (sumber)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Majalah Bugil Indonesia Jaman Dulu

8 Gaya Rambut Selebriti Terpopuler Sepanjang Masa